"Kata Bagai Udara Yang Tak Pernah Habis... Bagai Bintang Yang Mampu Menyeberangi Dimensi Secara Dinamis..."
Tampilkan postingan dengan label Tugas Kuliah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tugas Kuliah. Tampilkan semua postingan

Jumat, 06 Januari 2012

Ulasan Cerpen Perancis :Le Modele"

                                                    Hubungan Berbalut Keegoisan?


Hidup sebagai artis, mungkin bagi sebagian orang merupakan hal yang luar biasa. Apalagi jika namanya semakin lama semakin tenar dan semakin dikenal, tentu saja akan membahagiakan orang tersebut. Tapi, ada pandangan bahwa artis kadangkala – bahkan mungkin sering – bersikap egois, semaunya sendiri. Merasa dirinya telah memiliki semua dan mampu melakukan segalanya, dia bisa berbuat sesukanya. Namun hal ini bisa berakibat buruk ketika dia telah memiliki pasangan. Hubungan tidak akan terjalin dengan harmonis jika tidak menghilangkan atau setidaknya meminimalisasi sifat egois, seperti yang dipahami penulis dari cerpen berjudul Le Modèle.
         Di cerpen tersebut diceritakan bahwa seorang pelukis tertarik kepada model lukisannya yang rupawan. Dia yakin bahwa dia memang mencintai gadis itu dan dia berjanji untuk setia dan hidup bersamanya. Setelah beberapa bulan, hubungan mereka tidak berjalan dengan baik karena si pelukis cenderung acuh terhadap si gadis. Hingga akhirnya terjadi “perang besar” di antara mereka berdua tiga bulan kemudian. Si pelukis berniat untuk mengakhiri semuanya. Dia meninggalkan uang hasil penjualan lukisan dan hasil pinjaman dari temannya kepada gadis itu, kemudian pergi begitu saja. Dia memilih untuk tinggal di rumah temannya.
         Si gadis yang tidak terima diperlakukan seperti itu, mendatanginya lagi dan mengembalikan uang yang telah diberikan kepadanya. Dia menyatakan bahwa dia tidak membutuhkan uang, dia hanya ingin dijaga dan diperhatikan. Namun si pelukis ternyata akan dinikahkan oleh orang tuanya. Si gadis mengancam akan bunuh diri jika pelukis itu tetap menikah. Si pelukis yang tidak ingin termakan ancaman seorang gadis malah menantangnya. Dia mempersilakan gadis itu untuk bunuh diri. Ternyata omongan gadis itu bukan sekedar ancaman belaka, dia benar-benar mencoba untuk bunuh diri dengan melompat dari jendela. Akibatnya, dia tidak bisa lagi berjalan, dan karena si pelukis merasa menyesal dan tersentuh hatinya, dia memutuskan untuk menikahi gadis itu.
        Menurut pandangan penulis, dari cerpen tersebut tergambar sifat lelaki yang cenderung egois, memikirkan dirinya sendiri. Hal tersebut direfleksikan dari tokoh si pelukis. Apalagi sebelumnya sudah muncul anggapan umum tentang bagaimana kehidupan seorang pelukis yang cenderung memiliki hubungan pernikahan yang aneh di mata orang. Mereka menganggap bahwa pelukis menikahi hampir semua modelnya, ataupun nyonya-nyonya tua. Selain itu muncul pula anggapan bahwa si pelukis menikahi gadis itu karena dia terlanjur cacat. Mereka mungkin menganggap itu merupakan suatu kebodohan jika menikahi seseorang karena merasa kasihan atau iba belaka.
Entah hal itu merupakan suatu kebodohan atau bukan, tapi kenyatannya si pelukis harus “rela” menikahi gadis yang terlanjur cacat, sesuatu yang pada awalnya tidak dia inginkan. Sedikit banyak, si pelukis juga turut andil membuat gadis itu cacat. Karena sikapnya yang acuh dan egois serta kurang bisa memahami perasaan wanita-lah yang menyebabkan gadis itu berbuat nekat. Dan ketika gadis itu benar-benar membuktikan ucapannya, tidak ada yang tersisa dalam diri si pelukis selain penyesalan yang dalam. Sebuah perasaan yang pastinya tidak akan bisa hilang dengan mudah.
Memang, penyebab gadis itu cacat memang bukan hanya kesalahan si pelukis, namun juga gadis itu sendiri. Dia yang sudah gelap mata dan seolah sudah tidak mempedulikan apa-apa lagi bahkan hidupnya sendiri, nekat melompat dari jendela untuk membuktikan bahwa kata-katanya bukan sekedar ancaman belaka. Seharusnya jika dinalar, apa yang dilakukan oleh gadis itu merupakan sebuah kebodohan. Tidak sepatutnya dia mengorbankan nyawanya sendiri yang sangat berharga hanya demi memenuhi “tantangan” dari laki-laki yang telah meninggalkannya. Orang pasti banyak yang berpikir lebih baik mencari pasangan lain, karena laki-laki tidak hanya satu di dunia, apalagi ketika dia sudah mengetahui “keburukan” laki-laki itu sebelum melanjutkan ke jenjang pernikahan. Orang yang luar biasa biasanya akan memilih untuk bersyukur karena mengetahui lebih awal lebih baik daripada terlambat di kemudian hari.
Sayangnya, terkadang bagi wanita emosi lebih berperan daripada logika. Seperti kritikan atau lebih tepatnya pandangan laki-laki terhadap sifat wanita yang sulit ditebak yang dijabarkan di halaman 59. Di bagian tersebut dinyatakan bahwa wanita itu perasaannya mudah berubah, emosi yang terkadang bahkan sering tidak bisa ditebak, mereka juga sering melakukan hal tidak terduga yang sering tidak bisa dipahami oleh pihak laki-laki. Seolah semua itu merupakan teka-teki yang tak terpecahkan bagi para lelaki. Tidak sepenuhnya salah memang, tinggal bagaimana cara menghadapinya, karena hal itu adalah sesuatu yang alamiah dan sudah ada dalam diri setiap wanita.
        Menurut penulis, keinginan para wanita sebenarnya sederhana. Mereka ingin dimengerti. Namun begitu sederhananya keinginan mereka sehingga membuat para lelaki kebingungan untuk memenuhinya. Seperti gadis bernama Joséphine itu. Keinginannya sederhana, dia ingin diperhatikan dan dijaga oleh Jean Summer sang pelukis. Dia juga berkata bahwa dia tidak membutuhkan uang dari Jean, dia menginginkan kasih sayangnya. Tidak dipungkiri materi itu penting, namun terkadang pemenuhan kebutuhan bathiniyah bisa menjadi lebih mendesak daripada kebutuhan ragawi. Hal itu yang sebenarnya dituntut oleh Joséphine. Tapi Jean yang merasa sudah memberikan semuanya tidak bisa memahami apa keinginan Joséphine.
Mungkin di sinilah penyebab masalah di antara mereka. Jean kurang bisa mempelajari dan memahami keinginan wanita sehingga dia bertindak dan berpikir dari sudut pandangnya pribadi, tanpa melihat sudut pandang Joséphine yang telah menjalin hubungan dengannya. Terlebih dia adalah seorang laki-laki dan seorang pelukis. Laki-laki bisa dibilang cukup terkenal dengan sifatnya yang egois, bukan berarti wanita tidak, tapi sifat itu biasanya lebih dominan ada pada diri laki-laki. Lalu seorang pelukis juga cenderung lebih tertutup, banyak berdiam diri dengan pemikirannya sendiri. Begitu pula ketika membuat karya, meskipun ada obyek di depan mata, mereka pastinya punya interpretasi tersendiri untuk memunculkan aura dari karyanya tersebut. Interpretasi itu tentunya tidak mungkin bisa berkembang jika dia mudah dipengaruhi oleh orang lain. Pun ketika tidak ada hasrat untuk membuat karya atau melanjutkan karya yang tertunda, mereka pastinya lebih memilih untuk diam dan mencari inspirasi, kemudian akan kembali berkarya ketika hasrat itu telah muncul kembali. Mungkin karena profesinya itu pula sifat egois dari seorang laki-laki seperti Jean menjadi lebih besar.
            Hal seperti itu yang harusnya dihindari ketika seseorang sudah memutuskan untuk menjalin suatu hubungan dengan orang lain. Jean yang awalnya sudah berjanji akan setia dan hidup bersama Joséphine harusnya menepati janjinya itu dan harus mau berubah menjadi lebih baik demi keharmonisan hidup berpasangan. Joséphine, terlepas dari segala kekurangan yang ada dalam dirinya, sebagai seorang wanita ketika ada seorang laki-laki yang memohon kepadanya dan berjanji kepadanya, tentu dia akan menantikan realisasi dari janji tersebut. Dia ingin hidup sebagaimana layaknya pasangan. Dan ketika hal itu tidak terpenuhi, bahkan dia akan dikhianati, wanita pasti akan sakit hati diperlakukan seperti itu. Apalagi ketika Jean meninggalkan uang untuknya, dia merasa harga diri dan hidupnya sebagai seorang wanita seolah bisa dibeli dengan uang. Wanita manapun tidak akan terima jika diperlakukan semena-mena seperti itu. Jadi jangan heran jika ada sebagian orang yang membenarkan tindakan nekat dari Joséphine. Bisa jadi dengan kenekatan itu menunjukkan bahwa lelaki tidak bisa begitu saja mempermainkan wanita, habis manis sepah dibuang. Dengan kenekatan itu pula paling tidak bisa membuat luka di hati yang tidak akan pernah hilang dalam diri seorang laki-laki yaitu penyesalan. Mungkin bagi para pihak yang pro, mereka menganggap itu adalah “balas dendam” dan “balasan setimpal” dari apa yang telah dilakukan oleh laki-laki kepada wanita.
          Karena itulah dalam suatu hubungan, penulis berpikir bahwa kita sudah tidak bisa berbicara lagi tentang ego pribadi. Mau bagaimana lagi, kita sudah memutuskan untuk hidup bersama, itu artinya ada hak orang lain yang wajib dipenuhi, bukan hanya pemikiran kita sendiri yang harus diikuti, bukan hanya perasaan kita yang harus dimengerti, tapi juga cara berpikir dan perasaan pasangan kita. Seorang laki-laki harus mau menurunkan kadar keegoisannya dan mencoba belajar untuk memahami keinginan pasangan. Begitu pula seorang wanita harus mau mengatur emosinya dan tidak hanya berpegang pada perasaannya. Bukan hanya wanita yang ingin dimengerti, laki-laki juga butuh pengertian dari pasangan.
            Intinya, tidak ada yang lebih baik daripada mencari keseimbangan, keselarasan dan keharmonisan dalam hidup berpasangan. Jika hal itu tidak terpenuhi, tidaklah mengherankan jika kita menemui banyaknya pasangan yang sudah terikat oleh janji suci pernikahan putus dengan begitu mudahnya dan tanpa pikir panjang. Tidak mengherankan pula jika banyak orang yang mulai antipati dengan hubungan sah seperti itu dan lebih memilih hubungan yang lebih “bebas” daripada hubungan yang “terikat”. Mereka sudah gerah dengan keegoisan yang masih mendominasi dalam kehidupan berpasangan. Karena itulah kita harus bisa mengendalikan sifat-sifat yang sekiranya bisa mengganggu kehidupan berpasangan demi mendapatkan kehidupan yang harmonis dan langgeng.

Praditya dian Tami Anggara / 0911130007

Senin, 02 Januari 2012

Ulasan Puisi Perancis "Cherche ta vie"


Vas-y… Cherche ta vie…

Ada orang berkata bahwa puisi merupakan salah satu media pembelajaran. Orang itu benar. Mungkin banyak orang yang tidak menyadari bahwa hanya dari sekumpulan kecil kata, mereka bisa belajar banyak hal dan juga melihat suatu hal yang ada di sekelilingnya dengan sudut pandang lain sehingga sesuatu yang awalnya tidak tampak menjadi lebih jelas. Seperti yang tergambar dalam puisi Cherche ta vie… karya René-Guy Cadou. Melalui tulisan singkat ini, penulis akan mencoba mengulik sedikit tentang apa yang ingin disampaikan oleh sang pengarang dalam puisinya tersebut.
Une lampe naquit sous la mer
Un oiseau chanta
Alors dans un village reculé
Une petite fille se mit à écrire
Pour elle seule
Le plus beau poème
Dari enam baris awal puisi tersebut, mulai tergambar latar belakang tokoh yang digambarkan oleh pengarang, yaitu gadis kecil yang tinggal di sebuah desa terpencil, dan kemungkinan besar desa tersebut berada di pesisir pantai. Pada saat itu hari telah beranjak senja karena Une lampe naquit sous la mer mungkin menggambarkan matahari yang sinarnya terpantul di langit karena dia sudah berada di bawah horizon atau itu memang benar-benar lampu yang mulai dinyalakan karena suasana akan segera menggelap, dan biasanya ada burung yang melintas sambil bersuara “kaak....kaak”. Waktu seperti ini biasanya waktu yang cocok untuk memulai sebuah perenungan.
Ketika kita membaca kata terpencil, setidaknya ada beberapa gambaran yang terbayang dalam pikiran kita. Kita mungkin akan mulai membayangkan tentang desa yang tidak terjamah oleh perkembangan jaman maupun teknologi, desa yang masih setia dengan segala kesederhanaannya, desa yang lingkungannya masih alami, desa yang mungkin masih memiliki aturan khusus yang ketat dan juga tentang desa yang kemungkinan besar mayoritas penduduknya tidak pernah atau jarang mengenyam pendidikan. Intinya, desa tersebut masih cenderung tertutup.
Kemudian dari gambaran desa seperti itu, kita akan bisa membayangkan seperti apa gadis kecil yang merupakan tokoh utama dari puisi tersebut. Karena dia tinggal di sebuah desa terpencil, maka kemungkinan dia adalah gadis polos dengan pakaian sederhana dan seadanya yang mungkin belum mengenyam pendidikan namun memiliki banyak keinginan terpendam. Wajar karena dia masih kecil, apalagi dia tinggal di desa yang jauh dari mana-mana. Namun yang menjadi pertanyaan adalah mengapa dia bisa menulis sebuah puisi terindah meskipun hanya ditujukan untuk dirinya sendiri?
Elle n’avait pas appris l’orthographe
Elle dessinait dans le sable
Des locomotives
Et des wagons pleins de soleil
Empat baris lanjutan puisi di atas telah menjawab pertanyaan tersebut. Dia memang tidak belajar menulis, tapi dia menggambar. Mungkin sang pengarang ingin berkata bahwa gambar juga bisa menjadi puisi terindah bagi seorang gadis kecil yang tidak bisa menulis. Gambar juga bisa mengungkapkan puluhan, ratusan bahkan ribuan kata yang tersimpan di dada, karena terkadang memang gambar bisa berbicara lebih daripada sekedar tulisan biasa.
Pengarang menuliskan bahwa gadis itu menggambar di atas pasir. Pengarang memilih pasir mungkin karena selain desa gadis itu berada di pesisir pantai, hal itu bisa menggambarkan keterbatasan gadis kecil itu. Keterbatasan bahwa dia tidak bisa seperti puisi terindahnya yang ditulis dalam bentuk gambar lokomotif dan wagon yang bermandikan sinar matahari. Seperti yang kita tahu ketika menggambar di atas pasir, maka gambar itu akan mudah sekali terhapus, entah itu oleh jejak kaki, oleh hembusan angin maupun sapuan ombak yang membasahi pantai. Sama halnya dengan keadaan gadis tersebut. Keinginan atau mimpinya sama mudahnya untuk terhapus seperti pasir tadi karena segala keterbatasan yang dia miliki.
Pengarang juga memilih lokomotif dan wagon bermandikan cahaya matahari mungkin karena dua alat transportasi itu memiliki nuansa perjalanan atau petualangan yang sangat kuat. Dengan lokomotif biasanya orang melakukan perjalanan. Bisa terbayang di benak kita, orang yang duduk di dalam kereta kemudian melihat pemandangan melalui jendela, pemandangan yang sebelumnya mungkin belum pernah dilihat, melewati terowongan, melewati daerah satu ke daerah lain, melalui dataran atau daerah pegunungan hijau dengan lembah curam yang sangat indah di sela asap lokomotif dan di bawah terik matahari. Pastinya sangat menyenangkan bisa menemukan hal baru di daerah yang belum pernah ditemui rebelumnya.
Begitu pula dengan wagon yang biasanya dipakai oleh kebanyakan orang untuk bertamasya bersama teman atau keluarga baik ke daerah pegunungan maupun daerah pantai. Di tengah perjalanan bisa bercanda ria sambil menyanyi tanpa beban. Dan ketika sampai di tujuan, biasanya tangan akan terentang sambil berseru menikmati keindahan yang ada di depan mata. Tanpa beban karena dada akan berdegup lebih kencang ketika menemukan hal baru di luar kehidupan biasanya. Hal inilah yang tidak bisa dilakukan oleh gadis kecil dari desa terpencil itu. Hal kecil bagi sebagian orang namun mungkin hanya akan menjadi angan dan impian besarnya. Keterbatasanlah yang membuat dia tidak bisa mencari dan merasakan pengalaman-pengalaman baru di luar. Apalagi dia adalah seorang gadis yang hidup di desa terpencil, meskipun masih kecil namun terkadang kebebasan seorang gadis “lebih terkekang” daripada seorang laki-laki.
Elle affrontait les arbres gauchement
Avec des majuscules enlacées et des coeurs
Elle ne disait rien de l’amour
Pour ne pas mentir
Apa yang bisa dilakukan oleh gadis kecil menghadapi hal seperti itu? Dia hanya bisa memeluk pepohonan untuk mengadukan jeritan hatinya yang tidak bisa tersampaikan. Dia memeluk pepohonan mungkin supaya dia tetap bisa kuat untuk berdiri menghadapi kenyataan. Dia mencari sesuatu yang bisa menopangnya. Tempat yang bisa membuatnya menyandarkan tubuh dan hatinya yang sedang “terluka”. Dan dia tidak mengatakan apapun tentang cinta –mungkin cinta terhadap desanya-, karena mungkin hal itu akan membuatnya tidak jujur. Terkadang atas nama cinta, orang akan rela berbohong, bahkan kepada dirinya sendiri. Hal ini yang mungkin tidak ingin dilakukan oleh gadis kecil itu. Dia memilhh untuk jujur kepada dirinya, karena memang hal itulah yang dia rasakan. Jika dia berbohong, belum tentu juga beban kesedihannya akan berkurang. Dia mengakui bahwa dia ingin mencari ha-hal baru dan menjemput impiannya di dunia luar, namun sayangnya dia tidak sanggup karena keterbatasan yang dia miliki. Dia mengakui bahwa dia juga membutuhkan pegangan dalam kondisinya yang seperti itu. Karena mungkin dengan melakukannya, sedikit beban yang tersimpan di dalam dada akan terlepas. Mungkin pengarang ingin menyampaikan hal itu melalui puisinya di bagian ini.
Et quand le soir decendait en elle
Par ses joues
Elle appelait son chien doucement
Et disait
“ Et maintenant cherche ta vie “
Di bagian akhir puisi ini, mungkin bisa dibilang resolusi dari pengarang yang disampaikan melalui si gadis kecil. Setelah melalui masa perenungan yang membuat dia harus memahami keterbatasan dirinya dalam memanfaatkan luasnya dunia, maka ketika dinginnya malam mulai terasa di pipinya, dia memanggil anjingnya dan menyuruhnya untuk mencari hidupnya.
Mungkin si gadis kecil berpikir bahwa kehidupan anjingnya sama “terkekang”-nya dengan dirinya, sang majikan. Dia mungkin berpikir bahwa seharusnya anjingnya tidak harus seperti dirinya yang hanya dihabiskan di tempat itu saja, namun dia harus berkelana mencari hal-hal baru di dunia luar. Mungkin dia sadar, bahwa sama halnya seperti manusia, hewan sebenarnya hidup dengan bebas tidak terikat di satu tempat saja. Baik manusia maupun hewan pada dasarnya sama-sama memiliki jiwa petualang. Dia tidak ingin hewan peliharaannya mengalami hal yang sama dengan dirinya, sehingga dia menyuruhnya untuk mencari dan menjalani kehidupannya sendiri, tak perlu bergantung kepada majikan seperti dirinya. Dia yakin bahwa nanti hidupnya akan menjadi lebih baik daripada sekarang. Mungkin hal itu yang diyakini oleh si gadis kecil.
Dari sedikit penjelasan itu, mungkin kita sudah mulai bisa menyimpulkan apa yang sebenarnya ingin disampaikan oleh pengarang melalui nuansa-nuansa yang tergambar dalam puisinya. Melalui tokoh gadis kecil itu, penulis beranggapan bahwa hidup dengan bebas itu sangatlah berharga dan sayang untuk dilewatkan. Hidup hanya sekali karena itu harus dimanfaatkan sebaik mungkin mendapatkan pelajaran baru di dunia yang belum pernah ditemui sebelumnya. Bagi mereka yang terkekang, hal ini merupakan impian karena itu kita tidak boleh menyia-nyiakannya. Ini adalah hidup kita. Kita bebas untuk melakukan apapun yang berguna bagi kehidupan kita. Kita berhak atas kebahagiaan menikmati dunia dan kehidupan.
Jika mencoba untuk sedikit mengubah sudut pandang, penulis berpendapat bahwa sekarang bukan lagi waktunya untuk berdiam diri dalam keterbatasan. Mau tidak mau kita harus ikut maju sesuai dengan perkembangan jaman. Dan untuk bisa maju, terkadang kenekatan dan keberanian itu perlu dan dibutuhkan untuk menghadapi sesuatu yang belum pernah kita temui sebelumnya. Tanpa keberanian itu, kita tidak ak`n bisa maju. Jika kita tidak maju, maka kita hanya akan merasakan kehidupan yang stagnan seperti yang dirasakan oleh si gadis kecil itu. Karena itulah penulis sangat setuju dengan judul puisi René-Guy Cadou ini, Cherche ta vie….



Praditya Dian Tami Anggara
0911130007

Rabu, 21 Desember 2011

Ulasan Psikologi Tokoh Satine Dalam Film "Moulin Rouge"


Satine, Dilema Hati Berakhir Tragedi

          Moulin Rouge, sebuah film yang dirilis di awal millenium baru yang meraih beberapa penghargaan bergengsi di ajang film internasional. Salah satu penghargaan tersebut diraih oleh sang aktris utama bernama Satine yang diperankan dengan sangat baik oleh Nicole Kidman. Satine, “aktris utama” dengan daya tarik dan daya pikat luar biasa di Moulin Rouge, tempat hiburan yang semakin hidup dan meriah di malam hari, Di Paris.
        Satine, yang notabene telah menjadi seorang penghibur selama bertahun-tahun, yang hanya bertugas menemani dan melayani tamu-tamu “ayah”-nya, Tuan Zidler, sang pemilik Moulin Rouge, suatu hari bertemu Christian, seorang penulis yang dikiranya seorang Duke yang harus dia layani atas pemintaan Tuan Zidler. Christian-lah yang perlahan-lahan memberikan perubahan dalam hidupnya yang selama ini seperti itu-itu saja. Christian-lah yang membuat dia menambah lagi satu daftar peran sandiwaranya. Christian pula yang membuatnya merasakan dilema besar yang mungkin selama ini tak pernah dirasakan selama hidupnya.
         Bagi Satine, menjadi seorang penghibur adalah memberikan kesenangan dan pelayanan terbaik bagi para tamu, tak peduli bagaimanapun kondisinya, dia suka atau tidak, dia sakit atau tidak, orang-orang tak peduli. Yang mereka inginkan mereka melihat Satine, Sang Bintang Utama menghibur mereka. Satine sangat menyadari itu, jadi meskipun di awal cerita dia sempat pingsan di tengah pertunjukan, dia langsung berpura-pura dalam keadaan baik ketika Tuan Zidler melihat kondisinya. Dia tidak ingin membuat orang lain mencemaskan keadaannya, terutama pada Tuan Zidler, sosok yang mungkin sudah dianggapnya seorang “ayah” yang telah “merawat” dan “mengasuh”-nya selama ini. Satine harus selalu tampak sehat demi melanjutkan kehidupan di Moulin Rouge.
        Karena hal itu, Satine menolak ketika Christian menyatakan perasaan kepadanya. Meskipun awalnya dia cukup tertarik dengan Christian namun dia menegaskan bahwa tidak mungkin bisa mereka bersama. Dia berkata bahwa dia seorang pelacur, dan dia tidak membutuhkan cinta untuk menjalani pekerjaannya itu. Memang itulah kenyataannya. Seorang penghibur atau pelacur seperti Satine, bisa dibilang hanya membutuhkan paras yang cantik dan kemampuan memuaskan tamunya. Dia harus mengesampingkan segala perasaan dalam menjalani profesinya ini. Meskipun tidak suka, dia harus berkata suka, meskipun sedih dia harus berkata bahagia, yang terpenting tamu tersebut senang dan mungkin “ketagihan” untuk kembali lagi. Begitulah tuntutan profesinya yang tak membutuhkan perasaan, cukup kepura-puraan yang ditampakkan melalui wajah rupawan.
          Prinsip Satine itu diuji ketika ada seorang Duke yang mengatakan kepada Tuan Zidler bahwa dia menyukai Satine dan dia ingin benar-benar memiliki Satine. Sementara Christian tetap mengatakan bahwa dia mencintai Satine pula, bahkan dia sempat mengajak Satine untuk pergi dari Moulin Rouge, namun ditolak karena Satine berkata bahwa tempat itu adalah rumahnya. Dia tidak bisa pergi dari situ. Apalagi mengkhianati Zidler yang selama ini telah merawatnya. Namun, lama kelamaan prinsipnya itu luntur seiring dengan kegigihan Christian untuk mendapatkan cintanya. Pilihan yang sempat ditentang oleh Zidler, karena dia tetap berkata bahwa Duke menginginkan Satine. Duke memiliki segalanya tapi Christian tidak. Dia hanya penulis miskin yang pada saat kritis di awal cerita menawarkan konsep baru kepada Duke untuk membuat pertunjukan drama musikal untuk menutupi kesalahpahaman yang sempat terjadi dan supaya Duke tidak curiga jika dia dekat dengan Satine karena dia adalah penulis ceritanya.
         Satine seolah tidak peduli dengan hal itu. Mungkin dia sudah terlanjur jatuh hati kepada Christian. Hal yang sangat jarang terjadi di lingkungan seperti itu, lingkungan yang tidak membiarkan perasaan bisa berkembang begitu saja, karena hal itu dipandang tidak berguna dan tidak menghasilkan apa-apa untuk menyambung hidup. Satine memutuskan untuk bersandiwara supaya Duke tidak curiga dan segalanya berjalan lancar. Namun suatu hari Duke akhirnya mengetahui kenyataan bahwa Satine mempunyai perasaan kepada Christian, dia akhirnya mengancam Satine untuk meninggalkan Christian jika tidak Christian akan dibunuh. Tentu saja hal ini membuat perasaan Satine menjadi semakin tidak karuan karena dia dihadapkan di dua pilihan yang sangat sulit. Namun dengan tegar, di tengah penyakit yang juga semakin membuatnya sekarat, dia memutuskan untuk meninggalkan Christian untuk menyelamatkan hidupnya. Keputusan yang tidak mungkin bisa dibuat oleh orang yang mempunyai ketegaran yang luar biasa. Sekali lagi dia harus bersandiwara untuk meyakinkan Christian bahwa dia tidak mencintainya dan hanya berpura-pura saja selama ini, sama seperti pekerjaannya. Christian yang tidak tahu menyangka bahwa Satine mengkhianatinya, namun di akhir dia mengetahui bahwa Satine memang mencintainya karena di atas panggung Satine membalas ungkapan perasaannya meskipun pada akhirnya Satine harus meninggal di atas panggung. Akhir yang tragis bagi seorang aktris. Aktris yang tidak hanya pandai bersandiwara di panggung namun di kehidupan nyata.
Di cerita ini, perubahan sifat Satine tidak akan terjadi tanpa adanya Christian. Tokoh Christian yang polos dan tulus seolah diciptakan untuk menggoyahkan keyakinan yang selama ini dipegang oleh Satine bahwa dia tidak membutuhkan cinta. Tokoh ini seolah berbicara bahwa semua orang tak peduli siapapun dia, berhak untuk mendapatkan cinta, bahkan pelacur sekalipun. Karena itu dia dengan tulus memberikan cintanya kepada Satine. Karena hidup tanpa cinta itu kebahagiaan hampa, seperti yang mungkin dirasakan oleh Satine selama menjadi penghibur, meskipun dia bisa tertawa dengan gelimangan harta dari orang-orang kaya yang memakai jasanya, namun dia tidak benar-benar bahagia di dalam bathinnya. Selain itu, pada dasarnya manusia itu membutuhkan cinta untuk mengungkapkan perasaan, tidak mungkin seorang manusia bisa menghilangkan perasaan dan kebutuhan dasarnya, bagaimanapun itu. Selain itu, si tokoh seolah berkata bahwa semua orang bisa mencintai siapa saja, tidak peduli siapa dia dan dari mana dia, seperti dia yang seorang penulis yang mencintai pelacur seperti Satine.
Sementara itu, tokoh Duke berperan untuk menambah konflik bathin bagi Satine. Terutama ketika Satine sadar bahwa dia tidak bisa lagi melakukan hal yang biasa dia lakukan sebagai penghibur kecuali kepada orang yang dia sayangi, dia tidak bisa mengkhianati perasaannya. Konflik bertambah dengan ancaman sang Duke yang akan membunuh Christian. Tokoh Duke ini juga mengingatkan bahwa terkadang di dunia ini masih ada saja orang yang ingin memenuhi ambisinya tak peduli bagaimanapun caranya. Terutama hal ini tentu dilakukan oleh orang yang berkuasa. Sangat beruntung bagi Satine yang memiliki ketegaran yang luar biasa, meskipun dia dihadapkan kepada pilihan yang sulit, dia tetap memilih, dia tidak berhenti namun dia tetap maju. Dia tidak memutuskan untuk mengakhiri hidup daripada merasakan beban yang begitu berat, tapi dia tetap menjalaninya karena dia masih menyimpan harapan, meskipun hidupnya tidak lama lagi. Hal yang mungkin harus digarisbawahi di jaman yang seperti ini, dimana banyak sekali ditemukan orang yang dengan mudahnya memutuskan untuk mengakhiri hidup karena tidak kuat menanggung beban yang dimiliki. Padahal seharusnya masih ada harapan yang bisa mereka raih jika tetap maju menjalani kehidupan.
Pesan lain yang bisa didapatkan dari tokoh utama Satine ini adalah kita tidak boleh takut untuk memilih hal yang memang sesuai dengan kehendak hati kita, namun kita tidak boleh lupa untuk berani menanggung segala konsekuensi pilihan yang telah kita buat, karena banyak sekali yang berani memilih tapi tidak mau menanggung akibatnya. Dan juga kita harus bijak dalam menentukan suatu pilihan supaya tidak ada penyesalan di akhir, meskipun berakhir tragis seperti Satine. Tapi pastinya bisa kita lihat bahwa Satine tidak menyesal dengan apa yang telah dipilih dan dijalaninya, dia lega dengan semua itu, dia bisa melewati segala dilema besar dengan teguh sehingga dia meninggalkan senyum di akhir hayatnya.

Praditya Dian Tami Anggara
0911130007

Sabtu, 30 Oktober 2010

Bunda

Anugerah terindah dari surga, Bunda

Kasihnya lebih lembut dibanding belaian udara

Mata batinnya terjemahkan segala laku kata kita

Selamanya, kita terukir dalam nurani suci

Sebagai peri kecil penyejuk hati

Yang akan selalu dia temani, lindungi, cintai

Segala khilaf ‘kan selalu terbenam dalam samudera maafnya

Sepanjang masa, kita ‘kan selalu dalam dekapan, buaian jiwa Ibunda tercinta





#Terjemahan dari Puisi berjudul 'Maman'